
“Salah
apa yah, follower kok terus turun? kok
visitor blog sedikit?, viewers dan subscriber di youtube nggak ada perkembangan?” ucap saya dalam
hati sambil tetap scrolling explore
Instagram.
Begitulah
kira-kira yang terjadi dalam pikiran saya, selalu saja muncul, terlebih ketika
melihat angka followers yang naik
turun cenderung segitu-segitu saja.
Banyak
yang bilang juga followers bukan
segala nya yang terpenting adalah bagaimana konten kita.
Saya
setuju banget dengan hal itu, tetapi jika melihat apa yang terjadi saat ini dan
melihat dari sisi bisnis, tidak sedikit brand
/ perusahaan-perusahaan yang melihat dari segi jumlah follower ketika ingin mengajak kerjasama dengan para content creator.
Nggak
heran sih banyak yang berlomba-lomba saling “show
off” di sosial media untuk menunjukkan keberhasilan mereka, yang kadang
membuat orang lain ( termasuk saya ) jadi banyak pikiran hehe.
Bagaimana
yah kok mereka bisa seperti itu, apa sih yang membuat mereka bisa seperti itu,
dan banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang berujung rasa gelisah.
Tapi untungnya kegelisahan saya tersebut terjawab sudah oleh Mas Adam A. Abednego, selaku Co Founder and The Heart of “Menjadi Manusia” beberapa hari lalu melalui webinar bersama IDN Media.
![]() |
@adhealbian |
ANXIOUS
GENERATION
Ia
menyebut, generasi sekarang ini adalah generasi-generasi yang penuh kegelisahan.
Ya,
mungkin temen-temen bisa baca dari apa yang saya tulis tadi, bahwa saya
termasuk salah satu orang yang kadang menemukan kegelesihan akan hal-hal yang
berkaitan dengan konten sosial media.
Sosial
media yang saat ini temen-temen juga lihat, tidak sedikit orang-orang yang
menunjukkan keberhasilannya ( misalnya mendapatkan endorsement , kerjasama atau bahkan menjadi Brand Ambassador dari brand-brand terkenal ) di sosial media.
Suka
tidak suka, ketika mereka muncul di timeline,
pikiran-pikiran yang tadi kembali muncul. Seolah mereka sudah men-standarisasi pencapaian
ideal / pencapian yang saat ini banyak content
creator impikan.
Ujung-ujungnya
jadi membandingkan kita dengan mereka, hal inilah yang menyebabkan kita
termasuk orang-orang “anxious generation”
Buat
saya pribadi, jauh dari kata iri, tetapi lebih berpikir bagaimana saya bisa
menjadi seperti mereka, apa yang harus saya perbaiki, apa yang harus saya
tingkatkan dan lain-lain.
Saya
ambil sisi positif dari mereka, saya observasi apa yang bisa saya tiru ( bukan
plagiat ) dan modifikasi.
Dengan
mengikuti webinar itu, saya bisa mendapatkan insight yang cukup membuka mata saya, terkait pikiran-pikiran yang
selama ini selalu berkecamuk.
Saya
ingat betul Mas Adam bilang seperti ini :
“Ketika
kita membuat sebuah konten, kita harus pikirkan bagaimana caranya agar kita
bisa connect / engaged dengan pembaca
/ pendengar / penonton kita, jadi tidak hanya sekedar mengejar traffic semata”
Kata-kata
nya tersebut seolah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya di atas tadi. Berarti
kunci nya adalah di konten. Bagaimana konten saya bisa menyentuh / related dengan audience ( pembaca /
penonton / pendengar ).
Bicara
audience, kembali Mas Adam memberikan
ilmu baru terkait macam-macam audience
yang harus kita kenali ( audience persona
) sehingga konten kita bisa langsug menyasar ke audience yang tepat.
AUDIENCE
PERSONA
Dalam mengenal siapa audience kita, kita bisa mengambil dari dua sisi yang berbeda. Pertama adalah sisi demografi ( misalnya : jenis kelamin, kota mereka, dan umur ), dan yang kedua adalah fisiografi ( di sini akan lebih detail lagi dari pada demografis ).
![]() |
Sumber : Adam A. Abednego |
Dengan
mencari tahu siapa audience kita, apa
yang mereka suka dan tidak sukai, kita bisa menentukan langkah-langkah
selanjutnya seperti penentuan gaya bahasa / gaya bicara kita.
Dalam
berbahasa / berbicara, artinya kita harus membangun komunikasi antara kita
sebagai komunikator ( seorang content
creator ) dengan komunikan ( audience
) kita.
Pertanyaan
yang saya tujukkan kepada saya pribadi adalah “ Apakah komunikasi yang saya
lakukan selama ini sudah tepat?”
CARA BERKOMUNIKASI DENGAN TEPAT
Setelah
mengenal audience persona kita,
selanjutnya kita harus tahu bagaimana agar kita bisa berkomunikasi secara tepat
dengan mereka.
Nah,
berikut ini adalah jawabannya :
1.
Mengapa
Setiap
kita ingin melakukan / membuat sesuatu, ingatlah alasan mengapa kita melakukan
/ membuat nya. Dengan adanya jawaban dari pertanyaan ini, artinya apa yang kita
lakukan / buat mempunyai tujuan yang jelas. Purpose
goals nya jelas.
2.
Siapa
Kalau
banyak orang marketing bilang sih “target market”. Siapa audience yang menjadi target kita,
misalnya para orang tua kah, remaja kah, anak-anak atau juga lainnya.
Poin
ini adalah poin yang paling penting dan tidak bisa kita lewatkan. Karena
langkah ini ada kaitannya dengan audience
persona tadi. Bagaimana kita
mengenali audience baik secara
demografi maupun fisiografi.
Selain
itu, dengan kita mengetahui hal ini, kita jadi bisa menentukan gaya bahasa kita
mau formal, semi formal atau bahkan dengan bahasa gaul. Di sinilah kita bisa
berkomunikasi dengan audience kita
secara tepat.
3.
Apa
Perlu
perhatikan juga “Apa” yang ingin audience
kita dapatkan? Hal menarik / manfaat apa yang mereka bisa dapatkan dari konten
kita.
Hal
ini membuat audience kita nyaman
dengan informasi-informasi yang kita sampaikan melalui sebuah konten.
Audience
persona kita sudah dapat nih dan kita juga sudah tahu bagaimana cara
berkomunikasi yang tepat dengan mereka melalui sebuh konten, selanjutnya kita bahas konten.
Nah,
ngomong-ngomong konten, ada hal-hal penting yang perlu kita perhatikan dalam
pembuatannya. Apa aja sih?
4 HAL PENTING YANG PERLU DIPERHATIKAN
DALAM MEMBUAT SEBUAH KONTEN
1. Story Telling
Teman-teman
tahu kah, walau banyak yang menganggap storytelling
ini simple, tapi tak banyak orang
juga yang bisa melakukannya.
Kunci
dalam menggunakan storytelling adalah
agar audience kita bisa related dengan konten yang kita buat. Storytelling juga membuat mereka jadi lebih nyaman lho.
2. Know Your Purpose
Ketahuilah tujuan kita dalam membuat sebuah konten itu apa. Jika ini sudah kita pegang, maka langkah selanjutnya akan bisa kita lakukan dengan lancar.
3. Create a Feeling of Belonging
Libatkan
emosi ( perasaan ) di setiap konten yang kita buat, emosi ini bisa rasa sedih,
kecewa, bahagia dan lain-lain. Create
feeling apa yang kita rasakan saat membuat konten tersebut.
4. Surprise
Element
yang satu ini banyak disukai lho oleh audience.
Terlebih audience kita tuh suka
banget yang namanya kejutan.
Surprise
( kejutan ) ini banyak bentuknya, tinggal kita aja yang pintar meng create /
mengemas nya.
Kesimpulannya,
jangan terlalu banyak memikirkan apa yang terjadi di sosial media, mulai lah
memperbaiki dan upgrade diri, terus
belajar dan bijak dalam membuat sebuah konten.
Baca Juga : Tips Membangun Rasa Bahasa Dalam Tulisan Feature
Ketika
kita telah menjalankan langkah-langkah diatas tadi, semoga konten kita bisa jadi
lebih “berisi” dan mendatangkan audience yang sesuai dengan target market kita.
So,
buat temen-temen pejuang konten, keep a
good work, semangat dan jangan pantang menyerah. Goodluck for us..!!
Stay safe and stay healthy. Adhe Albian
signing out…!
Betul sekali, jaman now di sosmed banyak yang show off pencapaian, keberhasilan. Kalo aku dulu pertama kali mengenal dunia digital marketing, sepuluh tahun yang lalu ((tuwa banget)) diajarin untuk menganut "ilmu padi" sama sahabat imers plus mentor2ku di dunia online khususnya sosmed, agar tidak men up semua pencapaian.
ReplyDeleteTapi menurutku sah2 saja, emang realitanya begitu kan ya jaman now, tapi alangkah baiknya kita perkuat dengan skill kita, apalagi dengan belajar konten yang menarik, itu kuncinya. Kuy ahh apgred terus skill kita, pokus diri sendiri, maju tanpa menyikut teman eeaa..
Wah sudah dapat kuncinya sekarang yach , saya juga baru mengetahui ada 4 yach. Ini skill baru yang perlu diupgrade terus, apalagi story telling itu ternyata penting, plus create full of belonging and suprise....
ReplyDeleteSetuju mas Adhe, khususnya "libatkan emosi"
ReplyDeleteSetiap tulisan membutuhkan "nyawa"
Karena itu sulit banget ikut one day one post yang berarti harus bangkitin nyawa baru 😀😀😀
Suatu tantangan ya membuat konten yang menarik dan berisi. Sharing ilmu dunia perkontenan ini sangat aku nantikan hehe. Thanks ya sharingnya. Ilmunya disebar luas, ga ditampung sendiri. Mudah-mudahan berkah amin.
ReplyDeleteah benar banget ya mbak, emang storytelling itu cara yg paling tepat untuk bercerita
ReplyDeletelalu juga selalu membuat konten dari hati menggunakan emosi agar juga lebih menyentuh ke audience nya
boleh juga nih tips nya, saya sendiri juga gak terlalu suka sering upload di sosmed seperti Instagram misalnya, dan saya biasanya cuman hanya upload konten atau promosi di IG story sih, itupun aja kalau mau upload konten di sosmed saat saya sedang ikut volunteer campaign sih ^^
ReplyDeleteSetuju banget mas adhe. Nggak tahu ya aku prefer dan berfokus pada konten sih, ngak tahu kenapa ya kata editorku orang-orang sekarang alias "content creator" itu sekarang banyak yg sudah mengabaikan esensi dari konten yang mereka buat. Oke, trending. Tapi apakah mereka mau dikenal sebagai content creator yg viral karena hal yang elok. Bagiku pribadi selain bikin konten aku juga punya legecy untuk setiap kontenku nantinya agar gak sekedar konten udah bhayyy aja. Nggak seperti itu. Itu aku sih, yah!
ReplyDeleteSetuju mengenal audiens sebelum membuat kontent ini penting sekali ya kak karena dengan demikian pesan dari kontent yang kita buat akan sampai dan tepat sasarannya
ReplyDeleteTulisannya bagus jadi berasa ikutan juga. Bener bsnget sih kuncinya memang ada di konten ya. Jangan iri dengan pencapaian orang lain.
ReplyDeleteAku harus banyak belajar nih karena selama ini bikin konten cuma berdasarkan yang aku suka, gak begitu perhatiin audience
ReplyDeleteKadang dalam menceritakan sesuatu secara online itu sulit banget. Hiks.. sering juga rumus2 ini di hilangkan gitu aja karena di kejar konten.
ReplyDeletesetuju bikin konten itu gak boleh asal, memang harus banyak yang diperhatikan dan diperhitungkan, jadi konten yang dibuat pun bisa bermanfaat buat orang lain ya
ReplyDeleteKmren ga smpet nyatet yg penting soalnya nyimak breng bocah, kebantu deh dgn rangkuman ini, tks kak
ReplyDeleteKalau bicara soal mengemas konten supaya menarik dan disukai oleh audience kita, masih PR besar buat saya. Materi ini benar benar kepakai banget, makasih sudah share ya mas.
ReplyDeleteSelain story telling juga interaksi dengan yang saya follow dan follower saya masih saya sulit lakukan karena setiap main media sosial, saya selalu merasa kelelahan luar biasa.
penentuan audience penting banget biar kita makin tajam menulis sesuai dengan kebutuhan mereka kan. Suka banget bagian ngasi surprise biar makin betah sama tulisan kita kan
ReplyDeleteaku masih hate n love relationship gitu sama media sosial. kalau lagi pengen posting mulu, kalau lagi malas, ngga posting sama sekali. emang perlu menentukan tujuan dan alasan kuat yaa.
ReplyDeleteKalau ada kejutan memang jadi sesuatu yang ditunggu dan nggak membuat bete juga. Oke Tips nya nih kak untuk diterapkan
ReplyDeleteSaya ikut webinar ini juga, tapi sudah agak lupa karena tertimpa banyak hal baru yang masuk dalam ingatan. Terima kasih ulasannya, Kak. Merefresh kembali memori saya dan mengingatkan bagaimana sebaiknya konten dibuat 😊
ReplyDeletemakasih informasinya Adhe,jadi nambah terus nih ilmunya setelah baca artikelnya Ade apalagi termasuk saya yang ada di dunia sosmed ini
ReplyDeleteMakasih ilmunya, Kang. Sedang berikhtiar selalu menerapkan ini :)
ReplyDelete